Petisi Pemecatan Hong Myung-bo Menguat usai Korea Selatan Terancam Gugur di Piala Dunia 2026
Tekanan terhadap pelatih tim nasional Korea Selatan, Hong Myung-bo, semakin besar setelah performa tim dinilai mengecewakan di Piala Dunia 2026. Kekalahan pada laga terakhir fase grup memicu munculnya petisi publik yang mendesak Korea Football Association (KFA) segera mencopot pelatih berusia 57 tahun tersebut.
Petisi itu diunggah melalui situs resmi petisi publik Majelis Nasional Korea Selatan pada Kamis (25/6/2026), hanya beberapa jam setelah Korea Selatan kalah 0-1 dari Afrika Selatan di Stadion BBVA, Monterrey, Meksiko.
Hasil tersebut membuat Taeguk Warriors menutup Grup A di peringkat ketiga dengan koleksi tiga poin dan selisih gol minus satu. Posisi itu belum menjamin kelolosan karena Korea Selatan harus menunggu hasil pertandingan grup lain untuk bersaing memperebutkan tiket melalui jalur delapan tim peringkat ketiga terbaik.
baca juga”Taufik Hidayat Ditangkap, Sayembara Rp250 Juta Berakhir“
Kekalahan dari Afrika Selatan Memicu Gelombang Kritik
Perjalanan Korea Selatan di Piala Dunia 2026 diawali dengan kemenangan 2-1 atas Republik Ceko. Namun, performa tim terus menurun setelah itu.
Skuad Hong Myung-bo kemudian kalah 0-1 dari Meksiko sebelum kembali menelan kekalahan dengan skor yang sama saat menghadapi Afrika Selatan. Rentetan hasil tersebut memicu kekecewaan besar dari suporter dan pengamat sepak bola Korea Selatan.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Hong Myung-bo mengakui dirinya bertanggung jawab penuh atas hasil buruk yang diraih tim. Ia juga membantah spekulasi mengenai dugaan keracunan makanan yang sempat beredar dan menegaskan bahwa kegagalan tersebut murni disebabkan oleh keputusan taktis yang diambil tim pelatih.
Legenda Korea Selatan Soroti Strategi Tim
Penampilan Korea Selatan juga mendapat kritik dari legenda sepak bola nasional, Park Ji-sung. Mantan gelandang Manchester United itu menilai pola permainan tim kurang memiliki arah, terutama saat membangun serangan.
Selain minim kreativitas, semangat bertanding para pemain juga dinilai menurun sepanjang turnamen. Kritik tersebut sejalan dengan isi petisi yang menyebut penampilan Korea Selatan sebagai salah satu yang paling mengecewakan sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.
Petisi Desak Reformasi di Tubuh KFA
Petisi yang diajukan kepada Majelis Nasional tidak hanya menuntut pemecatan Hong Myung-bo. Para pengusul juga meminta reformasi menyeluruh terhadap tata kelola Korea Football Association.
Mereka mempertanyakan proses penunjukan Hong Myung-bo sebagai pelatih timnas pada 8 Juli 2024. Dalam petisi disebutkan bahwa proses seleksi dianggap tidak berjalan sesuai mekanisme yang semestinya sehingga memunculkan dugaan adanya cacat prosedural.
Di sisi lain, KFA sebelumnya menjelaskan bahwa Hong Myung-bo dipilih berdasarkan pengalaman, filosofi sepak bola, kepemimpinan, serta visi membangun tim melalui konsep “One Team, One Spirit, One Goal”. Kontraknya dijadwalkan berlangsung hingga berakhirnya Piala Asia 2027.
Hong Myung-bo sendiri bukan sosok baru di sepak bola Korea Selatan. Ia pernah memperkuat tim nasional sebagai pemain pada periode 1990 hingga 2002, sebelum menangani tim senior sebagai pelatih pada 2013 hingga 2014.
Petisi Berpeluang Dibahas di Parlemen
Petisi pemecatan tersebut dengan cepat memperoleh lebih dari 100 dukungan awal, sehingga memenuhi syarat administratif untuk diproses lebih lanjut oleh parlemen.
Majelis Nasional kini tengah mempertimbangkan apakah petisi akan dibuka untuk pengumpulan tanda tangan publik. Jika disetujui dan berhasil mengumpulkan sedikitnya 50.000 tanda tangan dalam waktu 30 hari, petisi akan diteruskan kepada komite tetap terkait untuk dibahas sesuai mekanisme yang berlaku.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap Hong Myung-bo tidak hanya datang dari suporter, tetapi juga berkembang menjadi tuntutan yang menyasar tata kelola federasi sepak bola Korea Selatan. Keputusan KFA dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi sorotan, terutama jika Korea Selatan gagal melanjutkan langkahnya di Piala Dunia 2026.
baca juga”Sprint Race MotoGP Belanda 2026: Raul Fernandez Menang, Trackhouse Kunci 1-2 di Assen“