Perserikatan Bangsa-Bangsa PERINGATKAN DAMPAK GLOBAL PENUTUPAN SELAT HORMUZ
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, memperingatkan risiko besar jika penutupan Selat Hormuz berlangsung dalam waktu lama. Dalam konferensi pers pada 30 April 2026, ia menegaskan bahwa gangguan di jalur pelayaran strategis ini dapat memicu krisis ekonomi global yang serius.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan ini. Karena itu, setiap gangguan berpotensi memicu efek domino terhadap harga energi, inflasi, hingga stabilitas ekonomi global.
baca juga”Anggota DPRD Jateng Kedapatan Merokok Saat Rapat“
SKENARIO DAMPAK EKONOMI GLOBAL JIKA PENUTUPAN BERLANJUT
Antonio Guterres memaparkan tiga skenario terkait dampak penutupan Selat Hormuz. Dalam skenario terburuk, jika penutupan berlangsung hingga akhir tahun, inflasi global diperkirakan melonjak di atas 6 persen. Pertumbuhan ekonomi dunia juga berpotensi turun drastis hingga sekitar 2 persen.
Ia menegaskan bahwa dampaknya tidak hanya bersifat bertahap, tetapi eksponensial. Semakin lama jalur ini tertutup, semakin besar kerusakan yang terjadi dan semakin mahal biaya pemulihannya.
Dalam skenario menengah, jika gangguan berlangsung hingga pertengahan tahun, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan turun ke 2,5 persen. Inflasi diperkirakan naik hingga 5,4 persen. Kondisi ini berpotensi mendorong sekitar 32 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan dan 45 juta lainnya menghadapi kelaparan ekstrem.
Sementara itu, dalam skenario terbaik, jika pembatasan segera dicabut, pemulihan tetap tidak terjadi secara instan. Rantai pasokan global membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali normal. Dalam kondisi ini, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen, sementara inflasi naik dari 3,8 persen menjadi 4,4 persen.
GANGGUAN RANTAI PASOK DAN RISIKO SOSIAL GLOBAL
Penutupan Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga perdagangan global. Pertumbuhan perdagangan barang diproyeksikan turun tajam dari 4,7 persen menjadi sekitar 2 persen.
Gangguan distribusi energi akan meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri. Dampaknya akan terasa pada kenaikan harga barang dan jasa, yang pada akhirnya membebani masyarakat, terutama kelompok rentan.
Guterres menekankan bahwa krisis ini berpotensi memperburuk ketimpangan global. Negara-negara berkembang akan menghadapi tekanan lebih besar karena ketergantungan mereka pada impor energi dan pangan.
SERUAN PBB UNTUK MEMBUKA KEMBALI SELAT HORMUZ
Dalam pernyataannya, Antonio Guterres mendesak semua pihak untuk segera membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Ia menegaskan bahwa kebebasan navigasi harus dijamin sesuai hukum internasional, termasuk resolusi Dewan Keamanan PBB.
Ia juga menekankan bahwa pembukaan jalur tidak cukup hanya secara fisik. Keamanan pelayaran harus dipastikan agar aktivitas perdagangan dapat berjalan normal dan dapat diasuransikan.
Selain itu, Guterres meminta semua pihak menahan diri dari tindakan yang dapat memperburuk situasi. Ia mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik yang terus berlanjut hanya akan memperbesar risiko krisis global.
PENUTUP: URGENSI DIALOG DAN STABILITAS GLOBAL
Peringatan dari PBB menunjukkan bahwa Selat Hormuz memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas ekonomi dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan ini dapat memicu resesi global dan krisis kemanusiaan.
Antonio Guterres menegaskan bahwa solusi terbaik adalah melalui dialog dan kerja sama internasional. Ia menyerukan langkah-langkah konkret untuk menjaga stabilitas, memulihkan jalur perdagangan, dan mencegah dampak yang lebih luas.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas geopolitik dan keamanan jalur perdagangan global sangat menentukan kondisi ekonomi dunia. Tanpa upaya bersama, risiko krisis akan semakin sulit dikendalikan.
baca juga”Kemnaker Kaji Potensi PHK Imbas Perang Iran, Ribuan Buruh Terancam“