Basarnas Prioritaskan Triase Medis 22 Penumpang Kapal Virgo
Basarnas memprioritaskan pemeriksaan medis terhadap 22 korban selamat KM Virgo Transport 8 setelah mereka dievakuasi dari laut. Para korban tiba di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada Selasa pagi untuk menjalani triase dan penanganan kesehatan.
Proses evakuasi berlangsung melalui beberapa tahap karena kapal perang yang membawa para korban tidak dapat merapat langsung ke dermaga. Tim SAR kemudian menggunakan kapal berukuran lebih kecil untuk memindahkan korban hingga ke daratan.
Baca Juga “Helikopter Jepang Bantu Padamkan Kebakaran Hutan Kalbar“
22 Korban Dievakuasi KRI Nala dalam Dua Tahap
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana mengatakan KRI Nala berhasil mengevakuasi 22 korban dari KM Virgo Transport 8.
Setelah berada di KRI Nala, seluruh korban dipindahkan menggunakan Rigid Bouyancy Boat (RBB). Proses transfer dilakukan dalam dua tahap untuk membawa seluruh korban menuju Pelabuhan Trisakti.
“Jumlah korban yang berhasil dievakuasi KRI Nala sebanyak 22 orang. Kemudian diangkut RBB dengan dua tahap, pertama membawa 16 orang dan sisanya enam orang,” ujar I Putu Sudayana di Banjarmasin, Selasa.
Tahapan tersebut memungkinkan proses pemindahan berlangsung secara bertahap dari kapal berukuran besar menuju fasilitas yang dapat mendekati dermaga.
KRI Nala Tidak Dapat Langsung Bersandar di Pelabuhan
Ukuran KRI Nala menjadi salah satu faktor yang membuat kapal tersebut tidak dapat langsung merapat ke dermaga Pelabuhan Trisakti. Tim SAR membutuhkan kapal yang lebih kecil untuk melanjutkan proses evakuasi.
Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii sebelumnya menjelaskan mekanisme transfer tersebut dalam konferensi pers pada Senin malam, 14 September.
Menurut Syafii, KRI Nala terlebih dahulu mentransfer korban kepada KAL Kumai milik TNI Angkatan Laut. Dari kapal tersebut, proses pemindahan korban kemudian dilanjutkan menuju pelabuhan.
“Karena kapal itu besar tidak mungkin untuk bisa bersandar di dermaga ini. Jadi harus dilaksanakan transfer ulang kepada kapal KAL Kumai milik TNI Angkatan Laut juga,” jelas Syafii.
Mekanisme transfer antarkapal menjadi bagian dari strategi operasi SAR untuk memastikan korban dapat segera mencapai daratan meskipun kondisi geografis dan ukuran kapal membatasi akses ke dermaga.
Triase Medis Menjadi Prioritas Setelah Korban Tiba
Setelah seluruh korban mencapai Pelabuhan Trisakti, tim medis langsung melakukan triase. Proses ini bertujuan mengidentifikasi kondisi kesehatan setiap korban dan menentukan tingkat prioritas penanganannya.
Pemeriksaan Menentukan Kebutuhan Penanganan Korban
Triase memungkinkan petugas medis mengelompokkan korban berdasarkan kondisi dan tingkat urgensi. Korban yang membutuhkan pertolongan segera dapat memperoleh penanganan lebih dahulu sesuai hasil pemeriksaan.
Petugas juga dapat menentukan korban yang membutuhkan observasi atau pemeriksaan lanjutan. Jika kondisi medis mengharuskan, korban dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Langkah tersebut penting setelah korban menjalani perjalanan panjang di laut dan menghadapi situasi darurat. Pemeriksaan awal membantu memastikan kondisi kesehatan korban sebelum mereka melanjutkan proses pemulihan.
Penanganan Korban Berjalan Seiring Operasi SAR
Proses evakuasi 22 korban tidak menghentikan operasi pencarian dan pertolongan KM Virgo Transport 8. Tim SAR gabungan masih melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian untuk mencari korban lainnya.
Operasi melibatkan berbagai unsur dan sarana pencarian. Setiap korban yang ditemukan menjalani rangkaian penanganan sesuai kondisi, mulai dari evakuasi, transfer antarkapal, pemeriksaan medis, hingga rujukan jika diperlukan.
Pendekatan tersebut memungkinkan operasi SAR berjalan pada dua sisi. Tim di lapangan tetap mencari korban yang belum ditemukan, sementara korban yang berhasil dievakuasi mendapatkan penanganan di daratan.
Operasi Pencarian Korban KM Virgo Transport 8 Berlanjut
Kedatangan 22 korban selamat di Pelabuhan Trisakti menambah jumlah korban KM Virgo Transport 8 yang telah berhasil dievakuasi ke Banjarmasin. Selanjutnya, tim SAR gabungan masih berfokus menemukan korban lain yang belum diketahui keberadaannya.
Proses pencarian dilakukan melalui penyisiran di sekitar lokasi kecelakaan dengan melibatkan sejumlah unsur penyelamat. Kondisi lapangan dan kebutuhan operasi menjadi pertimbangan dalam menentukan pola pencarian.
Di sisi lain, penanganan korban yang telah ditemukan terus dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan medis. Prioritas diberikan sesuai tingkat kebutuhan sehingga korban memperoleh layanan kesehatan yang tepat.
Rangkaian evakuasi ini menunjukkan pentingnya koordinasi antara Basarnas, TNI Angkatan Laut, tim medis, dan unsur SAR lainnya. Koordinasi tersebut memungkinkan korban dipindahkan secara bertahap hingga mencapai fasilitas darat.
Ke depan, operasi SAR akan terus diarahkan pada pencarian dan pertolongan korban yang masih belum ditemukan. Sementara itu, 22 korban yang telah tiba di Banjarmasin mendapatkan pemeriksaan medis sebagai tahap awal pemulihan setelah menghadapi kondisi darurat di laut.
Baca Juga “Hujan lebat di Provinsi Hainan paksa evakuasi lebih dari 55.000 orang“