Banjir Nepal-China Tewaskan 1.280 Orang, Ribuan Masih Hilang
Banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Nepal dan China terus menambah jumlah korban. Hingga Kamis (3/9), sedikitnya 1.280 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara ribuan lainnya masih belum ditemukan.
Bencana tersebut memicu operasi pencarian dan penyelamatan berskala besar. Tim gabungan menghadapi medan sulit karena sejumlah jalan, jaringan listrik, serta komunikasi di wilayah terdampak masih terganggu.
Nepal Catat Korban Terbanyak
Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal mencatat 1.259 orang meninggal dunia. Sebanyak 5.083 orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk 583 warga negara asing.
Pemerintah Nepal mengerahkan lebih dari 21.400 personel keamanan untuk mendukung pencarian korban dan penyaluran bantuan. Petugas juga membantu masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat terjangan banjir dan longsor.
Besarnya jumlah korban membuat proses identifikasi jenazah menjadi tantangan tersendiri. Di Chitwan, misalnya, otoritas setempat melakukan pemakaman terhadap jenazah yang belum teridentifikasi setelah mengambil sampel DNA untuk kebutuhan pencocokan data.
Keluarga Gelar Pemakaman Simbolis
Di Rasuwa, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan parah, sejumlah keluarga memilih menggelar ritual pemakaman simbolis. Mereka membuat patung menggunakan kaas-kush atau rumput suci sebagai representasi anggota keluarga yang belum ditemukan.
Baca Juga “Banjir Dahsyat Nepal-China: 1.280 Orang Tewas, 5.620 Masih Hilang“
Langkah tersebut dilakukan karena sebagian keluarga mulai kehilangan harapan untuk menemukan jenazah kerabat mereka. Pada Rabu (2/9), puluhan patung pemakaman kemudian dikremasi dalam upacara massal di Kuil Pashupati Aryaghat, Kathmandu.
Situasi serupa terjadi di sejumlah daerah lain. Banjir menghanyutkan rumah dan fasilitas umum sehingga sebagian keluarga kehilangan tempat untuk menjalankan ritual pemakaman sesuai tradisi.
China Laporkan Puluhan Tewas dan Ratusan Hilang
Di wilayah China yang terdampak, otoritas setempat melaporkan 21 orang meninggal dunia. Sebanyak 541 orang masih hilang, termasuk 261 warga negara asing.
Tim penyelamat tetap melakukan pencarian di sejumlah lokasi yang terdampak material banjir dan longsor. Upaya tersebut sekaligus mencakup pengiriman bantuan serta pemulihan layanan dasar bagi masyarakat.
Petugas juga menjaga kebersihan lokasi pengungsian. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko munculnya penyakit menular setelah bencana merusak infrastruktur dan mengganggu akses terhadap kebutuhan dasar.
Operasi SAR Terkendala Infrastruktur
Memasuki pekan kedua, personel militer, kepolisian, dan tim penyelamat masih menghadapi berbagai kendala di lapangan. Kerusakan jalan membuat sejumlah lokasi sulit dijangkau oleh kendaraan maupun bantuan.
Gangguan listrik dan jaringan komunikasi juga memperlambat koordinasi. Kondisi medan yang berubah akibat longsor dan timbunan material turut meningkatkan tantangan bagi petugas dalam mencari korban.
Selain pencarian korban, tim tanggap darurat harus memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Bantuan makanan, air, obat-obatan, serta dukungan bagi pengungsi menjadi bagian penting dari respons pascabencana.
Pecahan Gletser Diduga Memicu Banjir Bandang
Bencana Bermula di Kawasan Pegunungan
Banjir bandang melanda kawasan perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus. Peristiwa tersebut berkaitan dengan pecahnya bagian gletser di ketinggian sekitar 5.200 meter di Gunung Langtang Lirung, Nepal.
Pecahan gletser memicu longsoran es dan bebatuan. Material tersebut kemudian bergerak membawa puing-puing dalam jumlah besar menuju lembah di kawasan perbatasan.
Dampaknya meluas ke sejumlah wilayah Nepal. Distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Kavre termasuk kawasan yang mengalami kerusakan berat.
Infrastruktur Perbatasan Ikut Terdampak
Material banjir dan longsor juga menerjang kawasan Lembah Kathmandu. Di sisi China, bencana turut mengubur titik lintas batas Gyirong di bagian barat daya Kawasan Otonom Xizang atau Tibet.
Kerusakan pada jalur transportasi dan fasilitas perbatasan memperumit distribusi bantuan. Kondisi tersebut membuat proses evakuasi dan pencarian korban membutuhkan koordinasi lintas wilayah.
Pencarian Korban dan Pemulihan Terus Berlanjut
Jumlah korban yang terus diperbarui menunjukkan bahwa dampak bencana belum berakhir. Tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap ribuan orang yang belum diketahui keberadaannya.
Di sisi lain, keluarga korban menghadapi persoalan kemanusiaan dan sosial yang tidak kalah berat. Selain kehilangan anggota keluarga, banyak warga juga kehilangan rumah, mata pencaharian, serta akses terhadap fasilitas dasar.
Pemerintah dan tim kemanusiaan perlu melanjutkan pencarian sekaligus mempercepat pemulihan infrastruktur. Identifikasi korban melalui data dan sampel DNA juga menjadi bagian penting untuk memberikan kepastian kepada keluarga.
Dengan operasi penyelamatan yang masih berlangsung, jumlah korban dapat kembali berubah. Karena itu, pembaruan data dari otoritas resmi tetap menjadi rujukan utama dalam mengikuti perkembangan bencana Nepal-China.
Baca Juga “Korban Banjir Nepal-China Tembus 1.300, 5.624 Orang Masih Hilang“